BEKASI — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi mendorong Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bekasi mengambil langkah cepat. Tim WASH (Water, Sanitation and Hygiene) diterjunkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus air minum bagi masyarakat yang terdampak.
Tak sekadar mendistribusikan air menggunakan tangki, PMI Kabupaten Bekasi membangun instalasi pengolahan air bersih dan air minum darurat di Kampung Tegal Kadu, Desa Sirnajaya, Kecamatan Serang Baru.
Langkah tersebut dilakukan menjelang peringatan HUT ke-81 PMI yang jatuh pada 17 September 2026.
Ketua PMI Kabupaten Bekasi, Drs. H. Akhmad Kosasih, mengatakan sebanyak 30 personel yang terdiri atas pengurus, staf, dan relawan dilibatkan dalam penanganan dampak kekeringan tersebut.
Personel yang diterjunkan merupakan bagian dari Tim WASH yang telah mendapatkan pelatihan dan memiliki pengalaman dalam penanganan kondisi darurat maupun bencana.
“Kami menerjunkan 30 personel yang terdiri dari pengurus, staf dan relawan PMI Kabupaten Bekasi. Dengan dukungan alat pengolahan air dari sumber air alam berupa danau dan sungai sehingga menjadi air bersih siap digunakan oleh masyarakat,” kata Akhmad, Kamis (3/9/2026).
Instalasi Produksi 100 Ribu Liter Air per Hari
Menurut Akhmad, fasilitas yang dibangun PMI tidak hanya berfungsi menghasilkan air bersih. Instalasi tersebut juga dilengkapi sistem pengolahan dan sanitasi sehingga air dapat dimanfaatkan sebagai air minum setelah melalui proses pengolahan sesuai standar kebersihan.
“PMI sekarang ini sedang mendirikan instalasi air bersih darurat. Kita fokus membantu masyarakat memberikan pelayanan di bidang air bersih dan juga langsung air minum,” ujarnya.
Sumber air yang dimanfaatkan berasal dari kawasan bekas galian pasir di Kampung Tegal Kadu. Lokasi sumber air tersebut berada cukup jauh dari permukiman warga.
Sebelum digunakan, sumber air telah menjalani pengujian laboratorium. Hasil pemeriksaan menunjukkan kualitas air memenuhi persyaratan yang ditetapkan, termasuk tidak ditemukan bakteri E. coli.
“Airnya bagus, sudah diuji lab, bakteri E. coli-nya juga bersih, tidak ada. Tinggal kita proses untuk persiapan air bersih maupun air minumnya,” jelas Akhmad.
Keberadaan sumber air dengan debit yang masih relatif besar di tengah musim kemarau menjadi salah satu pertimbangan PMI memilih lokasi tersebut sebagai titik pembangunan instalasi darurat.
Layani Empat Kecamatan Terdampak
Instalasi pengolahan air tersebut direncanakan beroperasi selama kurang lebih satu bulan. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat penanganan kekeringan sekaligus membantu Pemerintah Kabupaten Bekasi dan BPBD dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Dari sisi kapasitas, instalasi tersebut mampu memproduksi sekitar 100.000 liter air per hari. Kapasitas produksi bahkan dapat ditingkatkan hingga sekitar 150.000 liter per hari, dengan pengaturan waktu produksi dan kapasitas penampungan.
“Kapasitas kita bisa sampai per hari 100.000 liter. Kalau mau memenuhi 150.000 liter juga bisa, hanya produksinya perlu kita istirahatkan,” ungkap Akhmad.
Pelayanan air diprioritaskan bagi masyarakat terdampak kekeringan di empat kecamatan, yakni Serang Baru, Cikarang Selatan, Cibarusah, dan Bojongmangu.
Untuk mendukung mobilisasi dan distribusi, PMI Kabupaten Bekasi menyiapkan empat armada yang akan digunakan untuk mengangkut serta menyalurkan air ke wilayah yang membutuhkan.
Warga juga dapat mengambil air secara langsung di lokasi instalasi dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan pengangkut air.
PMI memastikan air yang tersedia diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat terdampak dan tidak untuk diperjualbelikan.
PMI Perkuat Koordinasi agar Bantuan Tepat Sasaran
Dalam pelaksanaannya, PMI Kabupaten Bekasi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi, termasuk unsur pemerintahan di wilayah yang terdampak kekeringan.
Koordinasi dilakukan untuk memastikan pendistribusian air bersih berjalan efektif dan menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Akhmad mengatakan momentum HUT ke-81 PMI menjadi pengingat bahwa ancaman bencana, termasuk kekeringan, membutuhkan kesiapsiagaan dan respons kemanusiaan yang cepat.
“Dalam ulang tahun PMI yang ke-81 ini, kita dalam keadaan siaga bencana kekeringan. Jadi kita lebih titik berat memberikan peningkatan pelayanan, distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak,” pungkasnya.
Pembangunan instalasi air bersih darurat tersebut menjadi salah satu bentuk respons PMI Kabupaten Bekasi menghadapi dampak kekeringan. Dengan kapasitas produksi hingga 100 ribu liter per hari, fasilitas itu diharapkan dapat menjadi penopang kebutuhan air masyarakat di sejumlah wilayah terdampak selama kondisi kemarau masih berlangsung.
(CS)
